Pariaman, 29 July 2008
PUTRI
Jadwal saya mengajar komputer di SMK hanya 3 hari, hari rabu pagi, kamis siang dan sabtu sepanjang hari. Jika tidak sedang mengajar saya mengurus warnet yang baru saja kami buka. Tepat hari senin kemarin, saya ingin bercerita tentang putri..sosok seorang gadis peminta-minta yg baru kelas 3 SD, dengan jilbab putihnya yang kumal dan membawa sebuah ember kecil.
Setiap hari dia pasti datang ke warnet, mengucapkan assalamualaikum dan saya biasa memberinya sedikit uang, karena saya percaya di dalam rejeki yang dititip Allah pada saya ada bagian yang menjadi hak putri dan yang lain.
Putri sepertinya tidak terurus, terlihat dari badannya yang “kucel” bahkan cenderung sedikit kotor, tp mungkin begitulah nasib anak peminta-minta, dengan wajah yang kasihan dia mengucapkan salam dan menengadahkan ember kecilnya pada setiap orang yang dia rasa pantas.
Ironis memang, anak yang seharusnya memiliki masa kecil yang bahagia harus hidup mengemis dari orang, yang saya prihatinkan hanya kelak jika dia dewasa yang selalu terberkas di benaknya adalah rasa rendah diri, karena dari kecil hidupnya mengemis kepada orang lain.
Tapi bukan hanya itu, sosok putri memang menarik perhatian saya tapi sedihnya saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memberinya sedikit uang kecil..itu saja. Karena untuk mengurus hidup saya pun ada banyak tanggung jawab dalam keluarga saya.
Suatu hari putri masuk ke warnet dan mengatakan, “kak, boleh saya main seribu saja?”, mungkin karena saya memasang tarif Rp 500/ 10 menit untuk warnet saya. Saya bilang masuk aja, lalu saya mengajarkan putri cara bermain feeding frenzy. Dia kelihatan sangat senang…dari situ saya tau namanya putri. Melihatnya tertawa senang membuat hati saya jauh lebih senang, senang rasanya bisa membuat putri merasa seperti orang-orang lainnya. Dia bisa bermain komputer dan menikmati ruangan full AC yang sejuk.
Dari hasil interview, ternyata putri tinggal dengan orang mau menyekolahkan putri, bukan keluarganya hanya saja dia mau memberi tempat tinggal dan sekolah untuk putri. Saya lega ternyata putri masih bersekolah, tidak terbayang bagaimana nasibnya nanti jika dia tak pernah sekolah. Dan uang hasil minta-minta ternyata dia berikan kepada ibunya yang tinggal di kabupaten, setiap sore dia pulang dan memberikan uang itu, putri bercerita ayahnya sudah menikah lagi dan sekarang tidak pernah memperdulikan keluarganya, putri mempunyai 2 orang adik, sebagai anak pertama mungkin dia punya tanggung jawab lebih terhadap keluarga. Anak sekecil itu harus menanggung beban karena ayahnya. Terlihat jelas nada kebencian ketika putri bercerita tentang orang yang meninggalkan ibunya demi perempuan lain.
Tragis memang…sementara saya terus prihatin dengan hidupnya putri terus bermain game sampai bill mencapai Rp 2000, saya bujuk dia untuk pulang karena tidak baik dia lama-lama bermain. Saya takut dia ketagihan bermain game. Selesai bermain putri tampak senang sekali…di mengeluarkan uang Rp. 2000 rupiah dan saya menolaknya, saya bilang bawa saja dan putri berterimakasih akan hal itu.
Cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa dermawannya saya, hanya saya ingin berbagi kepada seluruh blog reader saya, bahwa pelajaran dari hidup orang lain akan sangat berharga sebagai guru kita, tidak perlu kita menjadi objek kegagalan sehingga orang bisa belajar dari kita, tapi sebelum kita melakukam kesalahan belajarlah dari pengalaman orang lain.
Bukankah suatu hari nanti kita akan menjadi orang tua, menjadi ibu atau ayah..dengan ini semoga kita bisa belajar bahwa tanggung jawab orang tua ada untuk anaknya dunia dan akhirat, selain itu kita bisa belajar lebih bersyukur lagi, ketika kita melihat hidup kita jauh lebih beruntung dari orang lain. Semoga keberuntungan kita tidak membuat kita melupakan sesama.
Semoga Allah meridhoi kita semua…Amin
By : Zahra




























